semenjak buka kedai, aku jadi belajar buat bertingkah laku sesuai kaidah bersopan santun yang benar saat membeli seseuatu. Entah itu makanan atau pun barang-barang. Mulai dari warung pinggiran jalan sampe supermarket yang ada di mall..
Tentu aja pelayanan yang diberikan ke kita gak selalu sama. Biasanya pelayanan yang diberikan di tempat-tempat eksklusif lebih bagus daripada warung klontong. Tapi belum tentu lebih ramah. Semua tergantung senyum dari “yang melayani” kita. Bisa juga seorang waitress di restoran Korea paling terkenal kalah sopan dengan ibu-ibu penjual gorengan di pinggir jalan raya. Waitress itu kalah hanya karena dia tidak mengucapkan terimakasih (walaupun masih senyum dan membukakan pintu saat kita pulang).
Slogan “pembeli adalah raja” itu sangat mutlak. Kalau kita sebagai penjual jualan barangnya asal-asalan, yang ada pembeli gak berakhir sebagai pelanggan, tapi justru pergi meninggalkan berita buruk di mana-mana. Ambruklah usaha kita. Walaupun pembeli adalah raja dan ratu, bukan berarti kita jadi seenak udel buat berlagak sok artis.
Seperti yang aku omongin tadi, ada beberapa tingkah laku yang harus dijaga saat kita berhadapan dengan penjual. Mereka juga manusia, dan tidak semudah itu bagi mereka untuk mengembangkan sebuah usaha. Bagaimana mereka memperjuangkannya, merawat, dan berusaha untuk terus menghidupkan usahanya adalah suatu usaha yang, oh ayolah, sangat susah. Apalagi kalau mulai dari kecil. Usaha mereka patut dihargai.
1. Waktu datang, usahakan untuk tersenyum lebar saat melihat penjualnya. Sekalipun penjualnya cuek bebek dan pasang muka layaknya penyihir (dan kita berhasrat sangat buat nampar dia pake sendal jepit), kuatkan hati untuk menyapa dia dengan senyuman. Walaupun begitu, ada juga penjual yang dengan senang hati (atau terpaksa) senyum dan menyapa kita dengan ramah. Nah, kalau untuk satu ini, paling nggak kita gak perlu nguat-nguatin ati buat senyum deh. apalagi kalo penjualnya punya tampang asoy, ikhlas lahir batin buat pasang senyum paling ca’em.hehhe.

http://www.nouvellesimages.com/img_Smile_Stephane-DE-BOURGIES_ref~ESC226_mode~zoom.jpg
2. kata “permisi” atau “maaf” bisa digunakan untuk memanggil pelayan dan bertanya tentang menu , harga atau dimana WC berada.. Inget, walaupun dia berkewajiban buat melayani kita, bukan berarti kita bisa injek-injek dia seenak jidat. Manusia yang punya harga diri adalah manusia yang bisa menghormati harga diri manusia lain.
3. Kalau kita lagi ada di posisi beli makan atau minum. Sebisa mungkin habiskan makanan atau minuman kita. Mereka sudah meluangkan waktu dan berusaha untuk memberikan kita yang terbaik, dan kita patut menghargainya. Kalau kita udah kelewat gak muat lagi di perut, memang mau gak mau harus dihentikan suapan itu. Oke untuk yang satu ini, sisakan hanya seperempat saja. Tapi minumannya harus dihabiskan looooh….
4. Gimana kalau barang atau makanan/minuman yang kita terima udah gak layak? atau masih layak tapi gak tega buat dikonsumsi. Kaya beli frozen yoghurt tapi buahnya yang buat topping udah bau, atau beli es teh manis tapi gelasnya bau sabun? Gak mungkin lah kita konsumsi itu semua, bisa-bisa kita ko’it duluan..hehhe..Maka tegurlah penjual itu sobat. Dahulukan kata “maaf” dan pake kata-kata yang sopan. Sekalipun rasanya pengen nge-gaplok tuh penjual (apalagi kao penjualnya cuek atau malah justru gak terima), luluhkan hati dia dengan senyum manis kawanku..Pasti dia ngerasa gak enak hati sendiri..
5.Saat membayar, biasanya kasir bertanya apakah kita punya sejumlah uang tertentu agar dia gampang mengembalikan uang sisa kita. Kalau kita gak punya, kata “maaf” cukup untuk mengatasi saat-saat itu (halah apaan sih). Yah paling nggak daripada kita gak senyum en geleng-geleng kepala. Ntar gantian kita nya yang digaplok sama penjual.hehhe..

http://economy.okezone.com/photo/dt/content/2008/12/23/278/176421/CBF5cUqrKM.jpg
6.Yeah, ini saat terakhir, yaitu saat kita selesai bayar dan mau pulang. Setelah “senyum”, “permisi”, dan “maaf”…sekarang ucapkan “terimakasih”. Seperti apapun pelayanan yang kita dapatkan, memang harusnya terimakasih selalu dikeluarkan. Karena hal ini akan memacu semangat penjual untuk lebih baik lagi dalam bekerja. Toh, bagi beberapa penjual (seperti aku, hehhe), ucapan terimakasih yang disertai senyuman ramah terasa sangat menghibur saat kita udah bercapek-capek membuat pesanan pelanggan..
Yup, paling nggak segini dulu pelajaran tata kramanya..semoga berguna